02 Juli 2015
"
Kebiasaan berburu sang Raja bersama Perdana Menterinya disertai beberapa prajuritnya selalu dilakukannya saat Raja senggang. Hobi berburu kancil membawa rombongan berburu ke satu hutan pada suatu hari. Saat Sang Raja asyik mengintai kancil hingga diikuti sampai ke tengah hutan belantara, hingga akhirnya terpisah dari pandangan Perdana Menteri dan Prajuritnya.
Karena kancil berlari maka sang Raja pun ikut berlari hendak mengejar kancil bermaksud untuk mendekatkan bidikan panahnya. Tiba-tiba terdengar suara BRUKKKK...Raja tersebut terperosok masuk kedalam lubang curam di antara bebatuan dan ranting-ranting tajam. Sang Raja terperangkap dalam lubang dalam keadaan pakaian yang robek karena ranting tajam, serta beberapa luka di seluruh tubuhnya akibat jatuh diantara bebatuan. Jari telunjuknya pun putus dan Raja tak sadarkan diri karena kesakitan.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya prajurit dan Perdana Menteri bisa menemukan Raja itu, karena ada beberapa sobekan pakaiannya dan anak panah yang tercecer. Ditandulah Raja pulang ke Istana.
Setelah pingsan beberapa hari akhirnya Raja pun siuman dan terbangun dari tempat tidurnya. Dipanggilah Perdana Menteri sebagai penasihat di istana kerajaan tersebut. Rajapun menceritakan dan mananyakan apa yang harus dilakukan dan menanyakan pendapatnya mengenai apa yang telah di alami Raja.
" Bagaimana pendapat anda tentang ini, kini jari telunjukku sudah hilang." kata Raja dengan lirih. Tak lama Perdana Menteri pun mendekat dengan sambil tersenyum, "Paduka, hamba rasa dengan apa yang terjadi pasti ada hikmahnya." sahut Perdana menteri. Sang raja mengkerutkan dahi tanda tidak senang mendengar jawaban dari Sang Perdana Menteri.
Karena tidak puas mendengar jawaban dari Perdana Menteri, Raja memanggilnya dan menanyakan sekali lagi. Lalu Raja menanyakan hal serupa kepada Perdana Menteri. " Duhai Paduka Raja yang saya Hormati, Semua ini pasti ada Hikmahnya. Maka Ikhlaskan lah. Yang terpenting Paduka tidak kehilangan segalanya, masih bisa pulang ke Istana dan berkumpul dengan Keluarga. Yakinlah bahwa Tuhan mampunyai rancana lain dibalik semua ini. Untuk itu Ikhlaskan lah dan memerima apa yang sudah terjadi." kata Perdana Menteri itu.
Tak kuasa mendengar jawaban seperti itu Raja pun marah kepada Perdana Menteri dan memerintahkan kepada pengawalan Istana untuk memasukanya ke dalam Penjara di bawah tanah.
Delapan bulan kemudian. Suatu ketika Raja sudah mengalami kesembuhan dari luka di tubuhnya dan Raja itupun rindu akan kegemarannya dalam berburu.
Diperintahkannya sejumlah Prajurit untuk ikut dalam kegiatan berburu memenani Raja. Namun untuk saat ini keinginan Raja adalah mencari wilayah baru. Dalam perburuan Raja dan Prajuritnya merasa kebingungan karena belum pernah dilewati sebelumnya. Suasana masih asli dibilang Hutan masih Perawan.
Tiba-tiba beberapa Prajurit berjatuhan kena anak panah yang entah dari mana datangnya. Ternyata wilayah itu memiliki penghuni suku Primitif yang sedang mengintai. Karena mereka merasa terancam maka mereka melontarkan beberapa anak panah kepada Prajurit itu. Dan akhirnya terjadi peperangan melawan suku Primitif tersebut.
Akhirnya dalam pertempuran itu semua Prajurit tewas terbunuh, karena jumlah mereka sangat banyak. Atas perintah Kepala Suku Primitif itu, satu sosok manusia yang berpakain bagus dan berwajah ganteng itu harus disisakan dan jangan dibunuh. Sang Raja ditangkap dalam keadaan hidup, diikat dan dibawa ke pemukiman Suku Primitif.
Setelah satu malam Raja itu menjadi tawanan, tiba-tiba sang Kepala Suku memerintahkan untuk segara dimandikan dan dibersihkannya dari segala kotoran. Sebagian suku primitif sedang melakukan persiapan acara ritual tepat matahari di atas kepala. Ternyata Raja akan dijadikan tumbal persembahan suku Primitif kepada para Dewa. Dengan paras berwajah tampan dan bersih, pasti Maha Dewa akan senang dengan persembahannya ini menurut Kepala Suku Primitive.
Setelah Raja selesai dimandikan, maka diperintahkan untuk menggunakan pakainan adat dan beberapa suku Primitif memotong dan membersihkan kuku Raja. Saat itu tampaklah bahwa sang Raja ini tidak memiliki Jari Telunjuk. Lalu penasihat adat itu berlari menghadap Kepala Suku Primitif dan menjelaskan bahwa Tumbal kita tidak sesuai dengan persyaratan. Yakni memiliki kekurangan karena cacat pada bagian jari telunjuknya. Maka serentak acara ritual itu dihentikan dan dipanggilah Raja itu sama Kepala suku Primitif.
Lalu dibentaklah Raja itu dan dimakinya, dikatai Raja cacat dan penyakitan. Lalu diusirlah dari wilayah itu karena takut dengan adanya Kutukan dari Mahadewa. Dipercayai suku Primitive, jika ada sosok manusia cacat itu adalah kutukan dan harus diusir dari wilayah itu.
Akhirnya sang Raja itupun dilepaskan dan dijauhkan dari wilayah suku Primitif. Raja pun berjalan menelusuri hutan mencari jalan menuju pulang ke Istana. Meski tersesat dalam hutan selama dua hari dan namun akhirnya Raja pun bisa mememukan jalan pulang dan kembali ke Istana. Raja disambut dengan gembira oleh Permaisuri dan Putra Putri Raja.
Namun sang Raja langsung menanyakan dan menemui Perdana Menterinya yang masih di penjara.
Wajah lusuh kurus karena lama di penjara, Perdana Menteri itu pun menghampiri sang Raja. Sang Raja itu pun memeluk Perdana Menteri itu dengan tetesan air mata. Perdana menteri menanyakan " wahai Paduka apa yang terjadi Gerangan hingga memeluk dan meneteskan air mata?"
Sang Raja pun menjawab," Aku Baru mengerti dengan apa yang kau katakan pada waktu itu, Kamu memang benar bahwa ada Hikmah di balik atas terjadinya hilang Jari telunjuk ini."
Raja pun menjelaskan perkara kejadiannya bahwa dia bisa selamat dari suku adat Primitif karena tidak mempunyai jari telunjuk. Setelah mengerti dan paham, tiba-tiba Perdana Menteri itu pun memegang kedua tangan sang Raja dan mengucapkan Terima kasih telah memenjarakannya.
"Kenapa berterimakasih kepadaku, padahal engkau aku Penjarakan?" kata sang Raja heran.
" Iya Paduka Raja, andaikata hamba tidak dalam Penjara pasti hamba menemani Paduka pergi berburu, dan pastilah Hamba sebagai Perdana Menteri kerabat terdekat yang akan Menggantikan untuk dijadikan Tumbal itu " jawab sang Perdana Menteri.
Mereka saling bertatapan dan saling memahami akan arti dari Misteri dibalik Kehidupan. Asalkan kita yakin bahwa Tuhan itu selalu memberikan jalan terbaik bagi setiap Umatnya.
Catatan:
Apa yang terjadi, terima kasih. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Karena SEMUA ADA HIKMAHNYA
GO BREAKTHROUGH
"