11 Agustus 2014
"
Suatu ketika, di sebuah pasar yang berada di perbatasan desa menuju kerajaan, terlihat perdebatan antara dua orang pemuda. Mereka tampak berargumen sangat serius. Adu mulut mereka makin lama makin panas.
“Sudah kubilang, anjing itu kakinya pasti empat!“ seru pemuda yang pertama.
“Nggak! Yang aku lihat kemarin itu anjing kakinya dua!“ seru lawan si pemuda tak kalah galaknya.
Mereka berdua terus saling mempertahankan pendapatnya satu sama lain. Hingga akhirnya, saking jengkel karena tak ada yang mengaku benar dan salah, mereka pun berkelahi. Maka, meski awalnya kejadian itu hanya melibatkan mereka berdua, lama-kelamaan pasar itu heboh karena perkelahian mereka sempat merusak lapak dagangan orang-orang di pasar.
Akhirnya, daripada semakin rusuh, orang-orang pun berduyun melerai mereka. Tapi, meski sudah dipisahkan, mereka tetap adu mulut, saling mempertahankan pendapatnya. “Sudah pasti aku yang betul. Mana ada anjing kakinya dua?“
“Ah...aku melihat dengan kepala sendiri, kaki anjing itu dua bukan empat!“
Melihat perdebatan tidak ada habisnya, mereka pun segera dibawa ke hakim kerajaan. Sang hakim terkenal sangat adil. Selain itu, sang hakim juga dikenal bijaksana. Banyak keputusan-keputusan sulit berhasil dipecahkan dengan jawaban yang memuaskan semua pihak yang terlibat permasalahan.
Tetua desa yang membawa kedua pemuda bertengkar itu pun segera meminta sang hakim untuk mengadili kedua pemuda yang telah berbuat onar di desa.
“Tuan Hakim, mohon berikan hukuman seadil-adilnya kepada mereka berdua yang telah berbuat onar di desa kami,“pinta tetua desa.
“Sebelum aku bisa memutuskan perkara ini, sebenarnya, apa masalah yang mendasari pertengkaran kalian?“tanya hakim bijak.
Pemuda pertama langsung menyahut, “Tuan hakim, pemuda ini mengatakan kalau anjing itu kakinya dua. Mana mungkin? Jelas dia mimpi di siang bolong. Hukum dia Tuan Hakim. Jangan sampai kebohongan semacam itu menyebar dan membuat kita jadi bodoh karena itu jelas tidak mungkin.“
Pemuda kedua tak kalah serunya. “Saya berani sumpah mati, yang saya lihat itu anjing kakinya dua. Jadi pasti dia yang salah, karena jelas saya melihat dengan mata kepala saya sendiri!“
Sang hakim tampak termenung sejenak mendengarkan pertengkaran yang terkesan sepele itu. namun, tak lama ia pun segera memberikan keputusannya.“Sebagai hakim yang bertugas memberikan keputusan seadil-adilnya, maka aku memberikan keputusan berikut. Kamu pemuda yang menyebut anjing kakinya empat aku putuskan bersalah. Kamu aku hukum penjara satu minggu karena ucapanmu itu. Lalu, kamu pemuda yang mengaku melihat anjing berkaki dua, aku nyatakan bebas. Tetapi kamu harus mengganti biaya kerusakan yang kamu timbulkan di pasar.“
Pemuda kedua bersorak kegirangan karena ia dimenangkan sang hakim.“Engkau memang hakim yang bijaksana. Baiklah, aku akan mengganti kerusakan yang timbul akibat perdebatan kami tadi. Tapi yang jelas aku sangat senang bahwa aku dimenangkan. Terima kasih Pak Hakim,“sebutnya sembari berlalu.
Setelah pemuda itu belalu, sang hakim berkata kepada semua hadirin yang masih ada di sana. “Kalian pasti mempertanyakan keputusanku. Tapi, aku punya alasan kuat untuk memberikan keputusan tersebut. Pertama, harus ada orang yang menanggung kerusakan yang terjadi di pasar. Dengan keputusan yang kuberikan tadi, pemuda yang aku menangkan dengan senang hati akan menanggung kerusakan yang timbul dan kalian tidak perlu meributkan hal itu lagi. Dan, yang kedua, aku ingin memberi pelajaran kepada kalian semua, terutama padamu anak muda.“
“Camkan ini baik-baik, emosimulah yang membuat aku menghukum dirimu. Semua orang juga tahu bahwa anjing itu berkaki empat. Tetapi mengapa kamu malah meladeni orang yang jelas-jelas salah karena kebodohannya. Apa yang kamu lakukan itu sangat memalukan orang-orang pintar. Karena itu, aku menghukum kamu karena menghabiskan waktu yang berharga demi melayani orang yang tidak seharusnya kamu ladeni. Lalu, kamu juga harus mengingat, bahwa emosi dirimulah yang tak pada tempatnya itu bisa mencelakakan bukan hanya kamu, tapi juga orang lain. Maka, di masa hukuman selama 1 minggu ini, coba belajarlah untuk mengendalikan dirimu. Renungkanlah ucapanku ini, sebagai pembelajaran agar kamu tak mengulangi lagi kesalahanmu.“
“Kepada kalian semua yang hadir di sini, semoga kalian juga bisa ikut belajar dari peristiwa ini. Sehingga, ke depan, kita semua dapat lebih bijak dalam menyikapi berbagai perbedaan yang terjadi, serta tak terjebak pada hal yang memancing emosi.“
Si pemuda tertunduk malu. Ia berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatannya. Begitu pula penduduk desa. Mereka mendapat pelajaran berharga dari sang hakim yang bijaksana.
Pelajaran yang bisa diambil:
- Acap kali kita menghabiskan waktu demi meladeni komentar-komentar yang sebenarnya tidak perlu diperpanjang. Saat melihat sesuatu yang berbeda sedikit dengan yang kita yakini, sudah meradang ingin menyerang. Saat ada yang berlawanan, keburu ingin membungkam.
- Banyak persoalan berawal dari perbedaan, justru melahirkan harmonisasi yang mencerahkan. Jika mau mencoba untuk merangkai semua keadaan...bisa terjadi alternatif-alternatif solusi yang jauh lebih hebat. Pepatah mengatakan: MUNDUR SELANGKAH, MAKA LANGIT TERBUKA...mencoba menahan diri dan berpikir sejenak, mengelolanya akan ada solusi hebat!
- Agar emosi tidak terpancing, berikan pertanyaan pada diri sendiri. Apakah pembahasan tersebut bermanfaat bagi kita? Apakah yang sedang menjadi pembahasan memang hal yang punya dampak langsung bagi kita? Jika memang tidak, berjiwa besarlah dan segera beralih topik pembicaraan yang lebih membawa manfaat. Agar waktu Anda bisa membawa keberkahan bagi banyak orang.
Note:Jika bermanfaat silahkan berbagi
GO BREAKTHROUGH
"